Selalu Ada yang Baru di Profesi Penilai

 

Keberadaan profesi penilai sangat penting dalam perekonomian nasional.  Ia  dipandang mampu menjamin integritas dan transparansi nilai serta membantu menjaga kestabilan pasar. Prospeknya pun bagus.  Kebutuhan akan profesi ini meningkat dari tahun ke tahun sementara praktisinya saat ini terhitung masih sedikit, 805 orang penilai publik dan 4.200-an penilai beregister. Padahal di tahun 2010 saja, MAPPI, asosiasi profesi penilai di Indonesia, memperkirakan bahwa kebutuhan tenaga penilai 10 tahun ke depan mencapai 10.000 orang.   

Kini, 13 tahun kemudian, jumlahnya masih di bawah itu. Yang berusia muda pun masih sedikit.  Tercatat hanya 24% dari total penilai publik yang bisa disebut belia. 

PROKSI menggali lebih lanjut kiat menjadi penilai muda dari kaca mata praktisi muda yang sukses sebagai profesi penilai, yaitu Harizul Akbar. Ia adalah salah seorang Rekan pada KJPP Amin, Nirwan, Alfiantori dan Rekan yang bergabung sejak Juni 2019.  Pria kelahiran Bandarlampung, 1 Juli 1992 ini ini secara khusus berbicara tentang kiat menjadi penilai muda 

Berikut kutipan perbincangannya. 


Boleh ceritakan latar belakang Anda hingga akhirnya memutuskan untuk jadi penilai publik dan bergabung di KJPP? 

Saya lulusan Program Studi S-1 Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Gadjah Mada, atau lebih dikenal sebagai jurusan planologi. Planologi ini memiliki kaitan dengan praktik penilaian properti. Kami mempelajari berbagai ilmu, mulai dari perencanaan dan rekayasa pengembangan wilayah, ekonomi wilayah, hingga sosial politik. Karena sifatnya yang multidisiplin ini, saya jadi lebih mudah memahami penilaian properti, baik dari sisi teori maupun praktik 

Soal karier di dunia penilaian boleh dikata saya mengikuti garis tangan.  Awalnya ingin melanjutkan sekolah di luar negeri setelah lulus sebagai sarjana teknik. Namun, orang tua saya cenderung konservatif saat itu.  Mereka mengharapkan saya tetap tinggal di tanah air.  Pada akhirnya, saya mencari alternatif jurusan magister yang menarik di sini 

Sedikit kilas balik.  Kebetulan saat saya menyelesaikan tugas akhir mengenai pengembangan perumahan, istilah penilaian mulai muncul di depan mata.  Saat tugas akhir itu, saya meneliti penyediaan perumahan berbasis rumah sehat sederhana di provinsi Lampung. Di situ saya mempelajari bagaimana seorang pengembang membangun perumahan dan memasarkannya 

Momen jual beli rumah ternyata membutuhkan peran penilai, terutama ketika seseorang mengajukan kredit pemilikan rumah. Selain itu, saat developer meminjam uang dengan mengagunkan aset, lagi-lagi profesi ini ikut andil.  

Hasil penelusuran soal penilaian mengantarkan saya ke Program Studi Magister Ekonomika Pembangunan UGM. Program ini menawarkan konsentrasi Manajemen Aset dan Penilaian Properti yang secara spesifik mempelajari ilmu penilaian. Selain itu, program ini juga punya sertifikasi profesi penilai, hasil kerja sama antara MAPPI (Masyarakat Profesi Penilai Indonesia) dan UGM. 

Salah satu pengajar dalam program sertifikasi penilai tersebut adalah Muhammad Amin yang merupakan Pimpinan KJPP Amin, Nirwan, Alfiantori dan Rekan. Lebih lanjut, saya memberanikan diri untuk menyatakan minat bergabung dengan KJPP-nya.  

Singkat cerita, setelah bergabung dan menjadi tenaga penilai, saya menyadari bahwa ilmu planologi yang saya peroleh jenjang S-1 relevan dengan praktik penilaian. Ilmu itu mempermudah pemahaman soal tren pengembangan wilayah, karakteristik properti, dan kecenderungan partisipan pasar. 

Setelah terjun ke profesi penilai, sampai saat ini, saya tidak pernah berpikir untuk beralih ke profesi lain. Saya merasa nyaman dengan suasana profesi penilaian yang penuh dengan diskusi dan keterbukaan. Sebagai contoh, kegiatan debat di kantor kami bergulir sangat aktif.


Menurut Anda, Apa yang perlu diperhatikan oleh penilai publik muda? 

Rentang usia penilai publik saat ini cukup panjang, dari 27 hingga lebih dari 70 tahun. Banyaknya penilai senior membuat penilai muda diuntungkan karena jadi tak kekurangan mentor. Harus diakui bahwa penilai senior memiliki pengalaman yang lebih daripada para penilai muda. Saat ini, penilai senior lebih berfokus pada sektor pengembangan bisnis. Sebaliknya, penilai muda lebih cenderung melakukan pekerjaan teknis sembari menambah jam terbang untuk meningkatkan kompetensinya. 

Ilmu penilaian berkembang pesat sehingga cocok dengan sifat generasi muda yang adaptif terhadap perubahan. Penilai muda memiliki pola pikir yang terbuka sehingga mampu melengkapi penilai senior yang cenderung bergantung pada pengalaman. Penilai senior sering menjelaskan permasalahan dengan kata “lazimnya” atau “biasanya”. Generasi muda perlu mengupas hal-hal ini lebih lanjut dengan pemikiran kritis. 

Seperti yang saya katakan tadi, profesi penilai memiliki budaya diskusi yang sangat tinggi.  Oleh karenanya terbuka kesempatan untuk bertukar pikiran dan meningkatkan pengetahuan. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada satu pun penilai yang ahli di segala hal. Pengetahuan baru dapat diperoleh dari diskusi sesama penilai. Pusat Pembinaan Profesi Keuangan sebagai regulator juga mewajibkan penilai untuk memperbarui keilmuan setiap tahun melalui pendidikan berkelanjutan. 

Salah satu tantangan yang perlu dijawab oleh penilai muda adalah berani melakukan ekspansi pekerjaan yang belum banyak digarap. Jenis pekerjaan itu misalnya jasa konsultansi, manajemen properti, dan konsultan keuangan. Lahan berpotensi ini seharusnya dapat dimaksimalkan mengingat kebutuhannya yang tinggi, sementara penyedia jasa yang kompeten masih sedikit. 

Perbedaan karakteristik antara generasi muda dan senior perlu dikelola guna memunculkan suasana yang kolaboratif. Seharusnya, penilai muda diberi lebih banyak kesempatan untuk menjawab tantangan yang muncul. Jika penilai muda tidak dilatih dan tidak ada kaderisasi, penilai senior juga akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan bisnisnya.


Wah, menarik. Lalu, bagaimana prospek penilai saat ini? 

Prospek industri penilaian saat ini masih cukup besar. Namun, penilai perlu menambah pengalaman yang beragam sehingga dapat meningkatkan kompetensinya. Saran saya, penilai itu lebih baik melakukan penilaian yang jumlahnya sedikit tetapi jenisnya berbeda-beda, bukan banyak penilaian namun homogen. Karena pengalaman itu bukan semata-mata soal kuantitas, melainkan juga soal kualitas dan keragaman. 

Hal yang sering terjadi adalah penilai merasa lebih nyaman dalam mengerjakan penugasan sejenis. Beberapa penilai cenderung menghindar jika diberikan pekerjaan yang baru dan berbeda. Pemikiran seperti ini perlu dihindari karena menghambat penilai untuk maju. Dalam ilmu penilaian, tidak ada yang 100% benar. Jika terjadi kesalahan, yang masih dalam batas wajar, penyelia dan manajer dapat membantu menyelesaikannya. Jadi, penilai muda harus berani mengambil peluang.


Bagaimana perputaran kerja di bidang penilaian? 

Saya mengamati bahwa seseorang yang telah terjun dan menyukai pekerjaan sebagai penilai kecil kemungkinan keluar dari profesi tersebut. Yang umum terjadi adalah seorang penilai pindah dari satu kantor ke kantor lain.  Motivasinya ingin ingin memperoleh pengalaman baru atau mencari penghasilan yang lebih baik. Namun, hal yang berbeda terjadi pada penilai wanita, terutama setelah menikah dan memiliki anak.  Banyak dari mereka memilih untuk keluar dari profesi penilai. Mereka menyadari bahwa pekerjaan penilai memerlukan mobilitas yang tinggi. Untuk itu, mereka cenderung beralih ke profesi lain yang lebih mudah untuk mengatur waktu antara pekerjaan dan keluarga.


Menurut Anda, bagaimana cara agar generasi muda tertarik pada dunia penilaian? 

Saat ini cukup banyak lulusan baru yang tertarik dengan penilaian karena mereka menganggap bahwa profesi ini tidak membosankan dan kariernya menjanjikan. Seorang penilai tidak akan menemukan pekerjaan yang benar-benar sama untuk tiap penugasan. Lalu soal karier, jenjangnya tidak seperti perusahaan pada umumnya. Di profesi ini, karier tertinggi adalah menjadi penilai publik.  

Untuk meningkatkan ketertarikan generasi muda pada dunia penilaian, saya selaku Ketua Lembaga Riset dan Pengembangan MAPPI, sering menulis di media massa untuk menyosialisasikan profesi penilai. Saya juga aktif melakukan penelitian yang berkaitan dengan pengembangan profesi penilai.  

Di sisi lain, regulator dan asosiasi berperan untuk memperkenalkan profesi penilai. Profesi ini harus dibuat inklusif, jangan eksklusif. Penilai harus dekat dengan kebutuhan masyarakat agar lebih dipercaya. Dengan cara ini, perkembangan profesi penilai dapat naik signifikan karena masyarakat memahami dan secara sadar membutuhkan peran profesi penilai.


Lalu, bagaimana dengan dukungan regulasi? 

Dukungan regulasi untuk profesi penilai masih dibutuhkan. Dalam berpraktik, penilai dihadapkan pada beragam aturan yang seringkali berbeda dengan Standar Penilaian Indonesia. Misalnya, saat melakukan penilaian yang berkaitan dengan pasar modal, penilai wajib berpedoman pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang Penilaian di Pasar Modal. Hal serupa juga terjadi ketika penilai hendak melakukan penilaian dengan tujuan pembebasan lahan bagi kepentingan umum.  

Tidak sebatas itu.  Masih banyak peraturan khusus tentang penilaian. Misalnya, penilaian Barang Milik Negara, penilaian untuk tujuan lelang, dan penilaian dalam rangka tujuan pembebasan lahan untuk jaringan listrik. 

Untuk menyinergikan aturan dan standar penilaian, dibutuhkan satu badan yang memiliki kewenangan dalam membuat standar penilaian yang terintegrasi. Hal ini juga sejalan dengan desain besar dalam Rancangan Undang-Undang Penilai.


Melihat populasi penilai publik yang sedikit dan pertumbuhannya yang kurang begitu pesat, apa pendapat Anda? 

Populasi penilai publik memang masih sedikit dan pertumbuhannya tidak terlalu signifikan. Penilai publik sebagian besar berumur sekitar 40 tahun karena jalur akademis yang tersedia untuk menjadi profesi penilai relatif sedikit. Konsekuensi ini menjadikan pintu menjadi seorang penilai sangat luas dan terbuka untuk semua latar belakang pendidikan. Alhasil, proses menjadi penilai publik menjadi lebih panjang. Selain itu, profesi penilai juga belum dikenal secara luas oleh masyarakat.  

Kita lihat saja profesi keuangan lain.  Profesi akuntansi telah ada lebih dulu dan keberadaannya telah banyak diketahui oleh masyarakat.  Makanya jumlahnya sudah lebih banyak. Lalu aktuaris.  Kita lihat profesi aktuaris sedang berkembang pesat.  Banyak kampus yang mulai membuka jurusan aktuaria. Profesi ini bisa berkembang pesat lantaran banyak publikasi yang menggambarkan besarnya potensi pendapatan dari profesi ini. Publikasi tentang profesi aktuaria yang sederhana dan mudah dipahami perlu ditiru oleh profesi penilai untuk mendapatkan hasil serupa.


Apa keuntungan utama dari profesi penilai menurut Saudara? 

Profesi penilai memiliki tiga keuntungan utama, yaitu ritme pekerjaan tidak monoton, keragaman ilmu, dan fleksibilitas kerja. Selalu ada yang baru di profesi penilai: objek penilaian, klien, dan kesempatan untuk melakukan inspeksi di berbagai tempat. Hal ini menjadi keistimewaan karena tidak semua pekerjaan menawarkan kesempatan untuk menemukan hal baru 

Karena objek penilaian yang beragam, profesi penilai memerlukan ilmu yang beragam pula. Oleh karena itu, para penilai harus terus mengembangkan dan memperbarui pengetahuan mereka. Terakhir, fleksibilitas kerja menjadi keuntungan lain dari profesi ini karena para penilai dapat mengatur waktu mereka sendiri dalam memberikan jasa penilaian.


Ada saran untuk regulator? 

Profesi penilai memerlukan peran regulator dalam melakukan advokasi kepada masyarakat, terutama kepada akademisi, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah. Regulator perlu menjelaskan secara rinci mengenai penilaian, termasuk keuntungan dalam menggunakan jasa penilai. Advokasi ini dapat berupa kegiatan sosialisasi atau seminar rutin. Tidak hanya itu. Penilai juga membutuhkan regulator untuk menyinergikan peraturan tentang penilaian yang beragam agar tidak tumpang tindih dan berseberangan.  

Selain itu, dalam rangka memperjuangkan Undang-Undang Penilai, kami sangat mengharap dukungan regulator dalam menyosialisasikan urgensi undang-undang tersebut ke para pemangku kepentingan.


Buat generasi muda, adakah pesan motivasi untuk yang ingin bergabung ke profesi penilai? 

Profesi penilai menawarkan tantangan baru, pengalaman baru, dan rekan kerja baru.  Pekerjaannya juga selalu menantang buat belajar, tidak membosankan. Kita akan mendapatkan imbalan sesuai dengan usaha yang kita lakukan. Maka tidak ada kata khawatir jika generasi muda bergabung dan berkarier di profesi ini.


Terakhir, hal apa lagi yang ingin dicapai oleh profesi penilai? 

Kami berharap kehadiran undang-undang yang mengatur dan memberikan perlindungan kepada profesi ini dan pengguna jasa kami. Di samping itu, undang-undang ini juga perlu untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, para pemangku kepentingan, dan pengguna jasa lainnya tentang pentingnya jasa penilaian.


Editor: Agastyawan Proofreader: Suryadi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemeriksaan terhadap Akuntan Publik dan Harapan untuk PPPK